Poso, PPID – Konsultasi publik penetapan status perlindungan terbatas ikan sidat oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Poso melalui Dinas Perikanan & Kelautan dan National Project I-Fish (FAO) merupakan aksi nyata yang sangat penting untuk mengidentifikasi potensi sumberdaya ikan sidat yang ada di Kabupaten Poso. Hal ini diutarakan oleh Bupati Poso Kolonel Marinir (Purn) Darmin Agustinus Sigilipu saat mengawal secara langsung pelaksanaan Konsultasi publik penetapan status perlindungan terbatas ikan sidat di Ruang Pogombo Kantor Bupati, Kamis 31 Januari 2019.

doc by Rustam

Seiring dengan proses pembangunan yang terus berjalan serta kegiatan-kegiatan penangkapan ikan sidat yang dilakukan oleh masyarakat yang masih belum terkelola dengan baik dimana Masapi (Ikan sidat, red) yang sebelumnya jumlah populasinya begitu besar namun pada beberapa tahun terakhir ini produksinya semakin menurun. “Maka Pemerintah Daerah tidak akan membiarkan hal ini terjadi, olehnya dalam upaya menerapkan langkah-langkah antisipatif untuk tetap menjaga kelestariannya, pemerintah daerah berupaya menerapkan tindakan bijak dengan menetapkan ikan sidat sebagai salah satu komoditas yang perlu dikembangkan” ucap Bupati Darmin.

Baca Juga :  Poso Mendapat Bantuan Langsung Permodalan Bumdes

Dalam upaya pelestarian dan pengendalian pemanfaatan ikan sidat, selain menetapkan peraturan Bupati Poso tentang Pengelolaan Ikan sidat sebagai Peraturan Daerah, Pemda Kabupaten Poso juga mengembangkan budidaya ikan sidat dengan penetapan kawasan kampung sidat di tiga wilayah desa di Kabupaten Poso yakni di Kecamatan Pamona Puselemba dan Kecamatan Poso Pesisir Selatan. “Kegiatan ini merupakan bukti bahwa sumber daya ikan sidat di Kabupaten Poso mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat dan melalui kesempatan ini pula, saya selaku kepala daerah, mewakili masyarakat Kabupaten Poso menyampaikan harapan kami kepada Pemerintah Pusat kiranya ke depan di Kabupaten Poso dapat juga dibangun Pusat Kajian / Penelitian dan Pengembangan Ikan Sidat sebagai bentuk kepedulian terhadap spesies ikan yang semakin terancam kelestariannya.” Ucap Bupati Darmin seraya membuka secara resmi kegiatan Konsultasi publik penetapan status perlindungan terbatas ikan sidat

Baca Juga :  Bupati: "Program Pamsimas Dorong Peningkatan Ekonomi Pedesaan "
doc by Rustam

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Poso Ir. Yusak Theri Mentara, MM dalam pemaparannya melaporkan bahwa Kabupaten Poso memiliki wilayah perairan yang sangat mendukung untuk siklus hidup dan perkembangbiakan ikan sidat. Karena perairan sungai sebagai jalur ruaya sidat mulai dari glass eel hingga dewasa yang bermuara / terhubung dengan perairan teluk Tomini sebagian besar berada di sungai-sungai yang ada di wilayah Kabupaten Poso seperti sungai yang ada di Poso Pesisir dan Pamona.

Selain itu juga dalam pemaparannya, Ia mengatakan bahwa Danau Poso yang memiliki luas 36.890 Ha ini menjadi nursery ground (daerah pembesaran sidat) yang terhubung dengan perairan teluk Tomini melalui Sungai Poso. Karena sidat merupakan salah satu spesies prioritas konservasi mengingat sumberdayanya yang mengalami penurunan jumlah populasi maka Kementrian Kelautan dan Perikanan Ditjen Pengelolaan Ruang Laut akan mengembangkan dan menetapkan status perlindungan ikan sidat yang saat ini banyak terdapat di wilayah Sungai Poso.

Baca Juga :  RSUD Poso Raih Predikat Akreditasi Madya Bintang Tiga
doc by Rustam

Konsultasi Publik sendiri merupakan serangkaian proses untuk penyusunan keputusan menteri atas status perlindungan sidat dengan tujuan untuk mempertahankan serta menjamin keberadaan, ketersediaan dan keberlanjutan ikan sidat dengan peraturan manajemen dan perdagangan ikan sidat. Konsultasi publik ini selain melibatkan para pengusaha muda atau penggiat usahawan yang bergerak dalam bidang perikanan di Poso juga menghadirkan Prof. Dr. Drs. Krismono, MS dari Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan, Taufik Alansar dari Konsultan Nasional Ahli Kebijakan dan Intitutional, Dr. Haryono, M.Si dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor, Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan UNTAD dan UNSIMAR serta Pimpinan PT. Poso Energy.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir 5,5 jam ini menyepakati akan beberapa hal diantara lain seperti adanya upaya pengumpulan data ikan sidat, pemetaan potensi, dan kapasitas pemanfaatannya yang dilakukan secara bersinergi antar stakeholder terkait, adanya perlindungan ikan sidat berupa larangan penangkapan glass eel dan fingerling selama 2 hari pada bulan gelap (dan bukan saat penangkapan musim nike) untuk spesies  Anguilla marmorata; serta larangan penangkapan indukan di muara sungai sepanjang waktu. (GP)

KOMENTAR